Dan apa pengganti mirin yang terbaik?
Apa Itu Mirin?
Mirin adalah anggur beras manis Jepang yang dibuat dengan fermentasi campuran beras mochi yang dikukus, koji (beras fermentasi), dan shochu (alkohol ubi jalar) selama 40 hingga 60 hari. Selama periode ini, pati dalam beras terurai, menghasilkan gula, asam amino umami, dan asam organik, yang menghasilkan rasa manis-asam khas mirin. Mirin mengandung hingga 14 persen alkohol—sehingga dikenakan pajak sebagai alkohol di Jepang. Jenis mirin pertama, yang juga dikenal sebagai hon-mirin, pertama kali dibuat di Jepang pada abad ke-16 dan dianggap sebagai barang mewah. Mirin menjadi umum pada awal abad ke-20, ketika sering digunakan dalam hidangan ikan berbasis kecap dan dipadukan dengan kaldu ikan dan kecap untuk membuat saus celup untuk soba.
Di lorong internasional toko kelontong Amerika, Anda mungkin melihat botol bertuliskan ‘aji-mirin’, yang berarti “rasanya seperti mirin”. Produk-produk ini mungkin mengandung pemanis tambahan, tetapi tetap dapat digunakan dalam resep. Anda dapat membeli mirin tradisional Jepang di pasar Asia, toko kelontong khusus, atau secara online.
Apa Substitusi Terbaik untuk Mirin?
Jika Anda tidak menemukan mirin atau kehabisan, Yamashita menyarankan untuk menggunakan campuran sake dan gula sebagai pengganti. Untuk menyeimbangkan rasa asam fermentasi dan manis, resepnya menggunakan perbandingan 3 bagian sake dan 1 bagian gula. Anda juga bisa mencoba mengganti mirin dengan cuka beras atau cuka anggur putih kering yang dicampur dengan gula (sekitar 1/2 sendok teh gula per sendok makan cuka). Dalam keadaan darurat, sherry kering atau anggur marsala manis juga dapat digunakan sebagai pengganti mirin.
Cara Menggunakan Mirin
Dalam masakan Jepang, mirin digunakan dalam masakan gurih.
Masakan rebus: Mirin sering dipadukan dengan kecap asin untuk membuat cairan rebusan, seperti dalam resep Braised Pork Ramen (terlihat di atas).
Memasak ikan: Yamashita juga melaporkan bahwa di Jepang, mirin digunakan untuk menghilangkan bau amis atau daging pada tahap persiapan memasak ikan. Saat digunakan untuk memasak ikan, ia mengatakan bahwa mirin juga membantu ikan mempertahankan bentuknya.
Saus celup dan dressing: Mirin sering digunakan sebagai bahan untuk membuat berbagai saus celup untuk berbagai masakan Jepang, termasuk mie, sashimi, tonkatsu, dan tempura. Untuk resep Daging Tenderloin dengan Bumbu Rempah ini, mirin membantu melengkapi saus vinaigrette jahe-kecap yang pedas yang dituangkan di atas irisan daging babi.
Saus dan bumbu marinasi: Kandungan gula yang tinggi pada mirin menjadikannya ideal untuk membuat glaze, saus, dan bumbu marinasi. Dalam masakan Jepang, mirin digunakan untuk memberikan efek ‘teri’ (glaze) pada hidangan—oleh karena itu, teriyaki. Hidangan Teriyaki dan Salmon Kebabs ini mengandalkan saus teriyaki buatan sendiri untuk mengoles ikan dan sayuran yang ditusuk dengan glaze manis dan lengket, dengan sisa saus yang cukup untuk dicelupkan. Dalam resep Tumis Daging Babi dan Mie ini, mirin dicampur dengan cuka beras dan kecap asin untuk menciptakan saus bercita rasa kaya dan berkilau yang menempel pada mie gaya Tiongkok. Cobalah menggunakan mirin di mana saja Anda ingin menambahkan sentuhan asam manis, seperti dalam versi kami dari saus Yum Yum ala restoran teppanyaki Amerika, yang cocok sebagai pendamping steak, ayam, ikan, dan seafood.
Penyelesaian hidangan: Anda juga dapat menggunakan mirin untuk menyempurnakan hidangan: coba siramkan di atas sup, tambahkan pada akhir memasak tumisan, atau deglaze wajan untuk membuat saus wajan.
Mirin vs. Cuka Beras: Apa Perbedaannya?
Menurut riset dari GTA777, baik mirin maupun cuka beras adalah bahan fermentasi yang umum digunakan dalam masakan Jepang. Perbedaan utama antara mirin dan cuka beras adalah mirin memiliki rasa manis dan mengandung alkohol, sedangkan cuka beras memiliki rasa asam dan tidak mengandung alkohol (atau hanya dalam jumlah trace). Mirin dibuat dengan cara fermentasi beras mochi yang dikukus, koji (beras fermentasi), dan shochu (alkohol ubi jalar) selama 40 hingga 60 hari. Cuka beras dibuat dengan fermentasi beras yang dikukus, koji, dan air; proses fermentasi mengubah gula dalam beras menjadi alkohol. Karena cuka beras difermentasi lebih lama daripada mirin, alkohol diubah menjadi asam, yang memberikan cuka beras rasa asam yang khas dan kandungan alkohol nol.
Baca juga artikel: Real Sociedad vs Girona: Girona Bidik Tiga Poin Langka



